Pro dan Kontra Kevin Warsh Calon Ketua The Fed, Janjikan Era Suku Bunga Rendah Berkat AI – Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengusulkan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve (The Fed) pengganti Jerome Powell mulai memicu perdebatan di kalangan ekonom dan pelaku pasar. Warsh membawa gagasan optimistis bahwa perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan atau AI dapat membuka jalan menuju periode suku bunga yang lebih rendah.
Dalam sejumlah pernyataannya, Warsh menilai kemajuan AI berpotensi menciptakan lonjakan produktivitas yang sangat besar. Ia berargumen bahwa peningkatan efisiensi tersebut akan memperluas kapasitas produksi ekonomi Amerika Serikat, sehingga bank sentral memiliki ruang untuk menurunkan biaya pinjaman tanpa harus terlalu khawatir terhadap tekanan inflasi.
Menurut pandangan Warsh, jika produktivitas meningkat secara signifikan, pertumbuhan ekonomi bisa tetap kuat meskipun suku bunga ditekan. Ia melihat transformasi teknologi sebagai faktor struktural yang mampu menahan kenaikan harga, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dalam jangka menengah.
Ekonom Meragukan Dampak AI dalam Waktu Dekat
Optimisme tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan pandangan banyak ekonom. Hasil survei yang dilakukan Financial Times bersama Clark Center for Global Markets dari Universitas Chicago menunjukkan mayoritas responden meragukan dampak cepat AI terhadap inflasi maupun biaya pinjaman.
Hampir 60 persen dari 45 ekonom yang disurvei menilai pengaruh kecerdasan buatan terhadap harga dan tingkat suku bunga dalam dua tahun ke depan kemungkinan sangat kecil. Mereka memperkirakan dampaknya terhadap inflasi berbasis PCE serta suku bunga netral bahkan tidak akan mencapai 0,2 persen.
Ekonom Universitas Johns Hopkins sekaligus mantan pejabat The Fed, Jonathan Wright, menilai fenomena ledakan AI belum tentu menjadi faktor penurun inflasi. Ia berpendapat bahwa perubahan produktivitas akibat teknologi biasanya membutuhkan waktu lama sebelum benar-benar tercermin pada indikator makroekonomi.
Sebagian responden survei bahkan mengkhawatirkan efek sebaliknya. Sekitar sepertiga ekonom menilai geliat investasi besar-besaran di sektor teknologi justru bisa meningkatkan permintaan modal, yang pada akhirnya mendorong kenaikan suku bunga netral.
Tekanan Politik Kevin Warsh dan Target Penurunan Suku Bunga
Upaya Warsh untuk mendorong penurunan suku bunga diperkirakan tidak mudah karena keputusan moneter berada di tangan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC). Saat ini, tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat masih berada di atas 3,25 persen, sehingga ruang penurunan secara agresif dinilai terbatas.
Trump secara terbuka menginginkan penurunan suku bunga hingga sekitar 1 persen guna mendorong aktivitas ekonomi menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Namun, proyeksi internal FOMC sejauh ini hanya melihat kemungkinan pelonggaran yang sangat terbatas, sekitar 0,25 poin sepanjang tahun berjalan.
Perbedaan target tersebut menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya tekanan politik terhadap independensi bank sentral. Sejumlah pengamat menilai situasi ini berpotensi memicu ketidakpastian arah kebijakan moneter jika kepemimpinan The Fed berubah.
Selain isu suku bunga, Warsh juga mendapat sorotan karena pandangannya mengenai neraca keuangan The Fed. Ia mengusulkan agar ukuran neraca—yang saat ini sekitar 6,6 triliun dolar AS—dipangkas hingga mendekati level sebelum krisis finansial 2008, yakni di bawah 1 triliun dolar.
Langkah tersebut dinilai kontradiktif oleh sebagian analis. Di satu sisi, Warsh menginginkan biaya pinjaman lebih rendah, tetapi pengurangan neraca secara agresif justru dapat memperketat likuiditas pasar. Ekonom dari Universitas Notre Dame, Jane Ryngaert, menyebut kondisi ini membuat arah kebijakan sulit diprediksi.
Kekhawatiran Risiko Sistem Keuangan
Perdebatan tidak hanya berkisar pada kebijakan suku bunga. Banyak ekonom juga menyoroti agenda deregulasi perbankan yang didorong pemerintahan Trump dan mendapat dukungan Warsh. Lebih dari 60 persen responden survei memperingatkan bahwa pelonggaran aturan sektor keuangan mungkin tidak memberikan dorongan besar terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi berpotensi meningkatkan risiko krisis di masa depan.
Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan pengalaman krisis keuangan global sebelumnya, di mana pengawasan Tuna55 yang lemah terhadap sektor perbankan dianggap memperbesar kerentanan sistem. Karena itu, sebagian analis menilai pendekatan deregulasi harus dilakukan secara sangat hati-hati.
Kini perhatian pasar tertuju pada keputusan Senat yang dijadwalkan pada pertengahan Mei mendatang. Publik dan pelaku keuangan menunggu apakah visi ekonomi yang dibawa Kevin Warsh dapat memberikan stabilitas baru bagi perekonomian Amerika Serikat, atau justru menambah ketidakpastian di tengah dinamika global yang masih bergejolak.

Leave a Reply