Kopi Kenangan Kini Cetak Laba, CEO Akui Terlalu Banyak Dana Jadi Pelajaran Mahal – Setelah bertahun-tahun membakar modal demi ekspansi agresif, Kopi Kenangan akhirnya mencatat tonggak penting: laba penuh pertamanya untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025.

Pencapaian ini terasa istimewa, terutama jika melihat ke belakang. Pada 2022, perusahaan masih membukukan rugi bersih 452,2 miliar rupiah. Tiga tahun berselang, perusahaan kopi yang kini dikenal sebagai Kenangan Coffee di luar Indonesia itu berhasil membalikkan keadaan.

Pendiri sekaligus CEO Edward Tirtanata menyebut satu kata kunci di balik perubahan tersebut: disiplin.

Menurutnya, banyak startup di Asia Tenggara justru menghadapi masalah karena terlalu banyak sumber daya, bukan kekurangan modal. Ketika pendanaan yang dihimpun sudah mencapai ratusan juta dolar, godaan untuk mengerjakan terlalu banyak proyek sekaligus menjadi sulit dihindari.

“Begitu dana besar masuk, kita cenderung mengerjakan prioritas kelima, keenam, ketujuh—yang sebenarnya tidak mendesak,” ujarnya dalam wawancara dengan The Business Times.

Pelajaran dari Ekspansi Berlebihan

Kopi Kenangan menyandang status unicorn pada akhir 2021 setelah valuasinya menembus US$1 miliar. Sebelumnya, perusahaan mengantongi US$109 juta pada pendanaan Seri B yang dipimpin Sequoia Capital, lalu US$96 juta pada tahap awal Seri C yang dipimpin Tybourne Capital.

Didukung investor global seperti Alpha JWC, B Capital, Horizons Ventures, hingga Serena Ventures milik Serena Williams, perusahaan pun bergerak cepat. Mereka meluncurkan lini bisnis baru seperti Cerita Roti, jaringan ayam goreng Chigo, serta Flip Burger.

Namun ekspansi lintas merek tersebut datang dengan harga mahal. Pada 2022, kerugian bersih perusahaan justru membengkak 70 persen dibanding tahun sebelumnya.

Tirtanata mengakui bahwa kombinasi modal besar dan tekanan pertumbuhan di masa pandemi membuat manajemen terdorong memperluas bisnis terlalu cepat. “Kami menyadari terlalu banyak distraksi menjauhkan fokus dari inti bisnis,” katanya.

Perubahan strategi pun dilakukan. Alih-alih menjalankan sepuluh inisiatif sekaligus, perusahaan mempersempit fokus pada tiga prioritas utama. Hasilnya terlihat pada 2025: laba bersih US$17 juta dengan pendapatan melonjak 45 persen menjadi US$184 juta.

Pertumbuhan ini didorong platform teknologi internal yang berhasil meningkatkan akuisisi pelanggan baru hingga 159 persen. Sepanjang 2025, perusahaan menambah 4,5 juta pelanggan melalui ekosistem digitalnya, dengan pengguna aktif bulanan meningkat lebih dari dua kali lipat.

Untuk 2026, manajemen memproyeksikan laba bersih naik 67 persen menjadi sekitar US$29 juta.

Kopi Kenangan Ekspansi Global, Tapi Bertahap

Didirikan pada 2017 sebagai kedai kecil oleh Tirtanata dan sahabatnya James Prananto, Kopi Kenangan awalnya bertujuan menjembatani celah antara kopi premium internasional dan kopi instan murah di Indonesia.

Kini, perusahaan mengoperasikan 1.324 gerai di enam negara: Indonesia, Singapura, Malaysia, Filipina, Australia, dan India. Indonesia tetap menjadi pasar utama dengan lebih dari 1.100 gerai.

Perusahaan membuka rata-rata satu gerai per hari dan tengah membidik pasar baru seperti Taiwan dan Timur Tengah. Meski begitu, ekspansi internasional dilakukan secara hati-hati.

Di Malaysia, misalnya, bisnis sempat merugi pada level EBITDA pada 2022. Namun kinerja membaik secara bertahap hingga mencatat EBITDA positif RM17 juta pada 2025. Manajemen memperkirakan pasar Malaysia akan mencetak laba bersih tahun ini.

Tirtanata menekankan bahwa membuka ratusan gerai dalam satu tahun bukan strategi berkelanjutan. Ekspansi, menurutnya, harus bertahap agar fondasi operasional kuat sebelum tumbuh lebih besar.

Strategi Lokalisasi dan Visi Jangka Panjang

Kopi Kenangan hanya menjual kopi asal Indonesia dan berambisi mengangkatnya sebagai merek global, bukan sekadar komoditas. Indonesia sendiri termasuk produsen kopi terbesar dunia.

Setiap negara mendapat pendekatan berbeda. Di Malaysia dan Indonesia, pemesanan lewat aplikasi populer. Di Filipina, pelanggan lebih suka memesan langsung ke kasir. Di Singapura, 80 persen transaksi justru berasal dari mesin self-ordering.

Menu pun disesuaikan. Di Singapura, misalnya, kopi reguler dibuat lebih “gao”—lebih kuat—dengan dua shot arabika.

Langkah ekspansi global ini dipandang sebagai upaya mengamankan masa depan bisnis. Tirtanata menyadari bahwa pertumbuhan di Indonesia suatu saat akan melambat ketika jumlah gerai sudah sangat besar. Karena itu, ia ingin menanam “benih” lebih awal di luar negeri.

Kopi Kenangan Tidak Terburu IPO

Untuk 2026, perusahaan menargetkan pembukaan sekitar 330 gerai baru di Indonesia serta puluhan gerai tambahan di pasar luar negeri. Meski demikian, Tirtanata menegaskan belum ada rencana melantai di bursa dalam waktu dekat.

Menurutnya, banyak perusahaan terlalu cepat melakukan IPO. Ia menganggap pencatatan saham adalah keputusan besar yang hanya dilakukan sekali, sehingga harus dipersiapkan dengan matang.

“Lebih baik memastikan semuanya siap, daripada terburu-buru,” ujarnya kepada Tuna55 saat di temui.

Kisah Kopi Kenangan menunjukkan bahwa pertumbuhan cepat tanpa fokus bisa berujung mahal. Namun dengan disiplin dan strategi yang lebih terarah, bahkan perusahaan yang sempat merugi besar pun bisa membalikkan keadaan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *