Alasan Manusia Belum Kembali Menginjakkan Kaki di Bulan Sejak misi Apollo berakhir pada awal 1970-an, manusia belum lagi menapakkan kaki di permukaan Bulan. Fakta ini sering menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin manusia mampu mendarat di Bulan pada era teknologi yang jauh lebih sederhana, tetapi kini, di zaman superkomputer dan kecerdasan buatan, perjalanan serupa justru terasa sangat lambat untuk diwujudkan kembali? Jawabannya ternyata tidak sesederhana soal kemampuan teknologi. Faktor ekonomi, dinamika politik, hingga perubahan tujuan eksplorasi luar angkasa menjadi penyebab utama mengapa misi kembali ke Bulan membutuhkan waktu lama.

Masa Program Apollo untuk Menginjakkan Kaki di Bulan

Pada masa program Apollo berlangsung, Amerika Serikat menggelontorkan dana dalam jumlah sangat besar. Anggaran badan antariksa saat itu mencapai sekitar lima persen dari total anggaran pemerintah federal—angka yang sangat besar untuk satu lembaga saja. Lebih dari separuh dana tersebut secara khusus dialokasikan untuk mendukung proyek Apollo. Jika dihitung dengan nilai uang saat ini setelah penyesuaian inflasi, total biaya program Apollo saja diperkirakan melampaui 260 miliar dolar AS. Bahkan jika memasukkan proyek pendukung seperti program Gemini serta misi robotik ke Bulan yang menjadi fondasi awal, total investasi bisa melampaui 280 miliar dolar AS.

Kondisi sekarang jauh berbeda. NASA saat ini hanya menerima kurang dari setengah persen anggaran federal Amerika Serikat. Dana tersebut harus dibagi untuk berbagai program, mulai dari penelitian planet lain, pengamatan iklim Bumi, teleskop luar angkasa, hingga eksplorasi Mars. Dalam satu dekade terakhir, dana yang digunakan untuk program Artemis—proyek ambisius yang bertujuan mengembalikan manusia ke Bulan—sekitar 90 miliar dolar AS. Jika dibandingkan dengan Apollo, jumlah ini jauh lebih kecil, sehingga wajar jika kemajuan proyek terasa lebih lambat.

Selain faktor finansial, situasi politik global juga sangat memengaruhi. Pada era 1960-an, dunia berada dalam ketegangan Perang Dingin. Amerika Serikat dan Uni Soviet berlomba menunjukkan supremasi teknologi dan ideologi melalui pencapaian luar angkasa. Pendaratan manusia di Bulan bukan sekadar proyek ilmiah, melainkan simbol kemenangan geopolitik. Dukungan publik sangat besar karena masyarakat melihatnya sebagai bukti keunggulan nasional. Para politisi pun dengan mudah menyetujui anggaran besar demi memenangkan perlombaan tersebut.

Namun, setelah Amerika Serikat berhasil mencapai Bulan dan dianggap “menang” dalam perlombaan antariksa, antusiasme publik perlahan menurun. Tanpa tekanan kompetisi langsung, minat masyarakat terhadap misi Bulan tidak lagi sebesar sebelumnya. Akibatnya, dukungan politik ikut melemah dan anggaran pun dipangkas. Dengan kata lain, tidak ada lagi dorongan kuat dari publik maupun pemerintah untuk mengeluarkan biaya fantastis demi misi serupa.

Keterbatasan Dana

Keterbatasan dana dan dukungan politik pada dekade-dekade berikutnya memaksa NASA membuat keputusan strategis yang berdampak jangka panjang. Ketika program pesawat ulang-alik mendekati masa pensiun pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, lembaga tersebut harus menentukan bagaimana memanfaatkan teknologi yang sudah ada. Alih-alih merancang sistem sepenuhnya baru yang mahal, mereka memilih menggunakan kembali komponen pesawat ulang-alik, termasuk mesin roketnya, untuk dikembangkan dalam sistem peluncuran generasi berikutnya. Keputusan ini memang menghemat biaya, tetapi juga membuat proses pengembangan menjadi lebih kompleks karena teknologi lama harus disesuaikan dengan desain baru.

Perbedaan lain yang sangat penting antara program Apollo dan Artemis adalah standar keselamatan. Pada masa Apollo, risiko yang dihadapi astronaut jauh lebih tinggi dibandingkan standar saat ini. Para astronot sadar bahwa peluang kegagalan misi cukup besar, namun tekanan politik dan ambisi nasional membuat program tetap berjalan. Sejarah mencatat beberapa insiden serius, seperti kebakaran Apollo 1 yang menewaskan tiga astronaut saat latihan di darat, masalah mesin pada Apollo 6, serta kegagalan sistem pada Apollo 13 yang hampir berujung tragedi di ruang angkasa.

Saat ini, toleransi terhadap risiko jauh lebih rendah. Pemerintah dan masyarakat tidak lagi bersedia menerima kemungkinan kecelakaan fatal seperti di masa lalu, terutama setelah tragedi pesawat ulang-alik Challenger tahun 1986 dan Columbia tahun 2003 yang menewaskan seluruh awaknya. Standar keselamatan yang lebih ketat berarti setiap komponen harus diuji berulang kali, prosedur diperketat, dan desain diperbaiki secara menyeluruh. Semua itu memerlukan waktu serta biaya tambahan, tetapi dianggap perlu demi melindungi nyawa astronaut.

Tujuan misi juga berubah secara drastis. Program Apollo pada dasarnya dirancang untuk mencapai target simbolis: mengirim manusia ke Bulan secepat mungkin. Astronaut yang mendarat biasanya hanya berada di sana selama beberapa puluh jam. Mereka mengumpulkan sampel batuan, memasang beberapa instrumen sederhana, lalu kembali ke Bumi. Fokusnya adalah pencapaian cepat, bukan keberlanjutan jangka panjang.

Sebaliknya, program Artemis memiliki visi yang jauh lebih ambisius. Misi ini tidak sekadar ingin mengulang keberhasilan Apollo, melainkan membangun fondasi kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan. Astronaut direncanakan tinggal lebih lama—bahkan hingga sekitar satu minggu—yang berarti membutuhkan logistik lebih besar seperti persediaan makanan, air, oksigen, serta perlengkapan ilmiah yang lebih canggih. Selain itu, penelitian ilmiah menjadi prioritas utama, sehingga setiap misi harus membawa instrumen kompleks untuk mempelajari lingkungan Bulan secara detail.

Tidak hanya itu, Artemis juga bertujuan membangun infrastruktur permanen, seperti stasiun orbit Bulan dan kemungkinan pangkalan di permukaan. Infrastruktur ini diharapkan menjadi batu loncatan untuk misi lebih jauh, termasuk eksplorasi manusia ke Mars. Dengan cakupan tujuan sebesar itu, wajar jika program ini jauh lebih rumit dibandingkan Apollo yang fokusnya relatif sederhana.

Alasan manusia belum kembali mendarat di Bulan bukan karena kita kehilangan kemampuan teknologi. Justru sebaliknya, misi modern jauh lebih canggih, aman, dan ambisius. Namun, kompleksitas tersebut membutuhkan waktu, dana, dan dukungan politik yang konsisten. Tanpa kombinasi ketiganya, perjalanan kembali ke Bulan tidak bisa dilakukan dengan cepat. Program Artemis menunjukkan bahwa manusia masih bertekad kembali ke satelit alami Bumi itu—bukan sekadar untuk mengulang sejarah, melainkan untuk membuka babak baru eksplorasi antariksa jangka panjang. Tuna55


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *