Dominasi Spektrum Perkuat Posisi Telkomsel di Persaingan 5G – Laporan terbaru

lembaga riset independen OpenSignal berjudul Mobile Network Experience edisi

Desember 2025 memetakan persaingan layanan 5G di Indonesia.

Hasil analisis menunjukkan bahwa Telkomsel memimpin di berbagai indikator

performa utama, mulai dari kualitas pengalaman pengguna

hingga jangkauan jaringan.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa pengguna di Indonesia

merasakan kecepatan unggah dan unduh tertinggi melalui jaringan Telkomsel,

baik secara keseluruhan maupun khusus pada konektivitas 5G.

Telkomsel Unggul di Berbagai Indikator Kinerja dan Persaingan 5G

Berdasarkan data OpenSignal yang dirilis pada Februari 2026,

Telkomsel menempati posisi teratas dalam sejumlah kategori penting.

Di antaranya adalah pengalaman menonton video di jaringan 5G,

kecepatan unduh dan unggah, stabilitas kualitas koneksi, serta indikator

cakupan dan ketersediaan jaringan.

Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas layanan 5G tidak hanya ditentukan

oleh luasnya pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga faktor teknis

mendasar yang memengaruhi performa jaringan secara keseluruhan.

Pakar telekomunikasi dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB,

Ian Yosef Matheus Edward, menjelaskan bahwa salah satu kunci utama performa

jaringan seluler adalah spektrum frekuensi. Menurutnya,

operator yang memiliki spektrum lebih lebar dan tersusun secara kontinu

akan lebih mampu menghadirkan kecepatan tinggi sekaligus kestabilan koneksi.

Ia menambahkan bahwa selain spektrum, kesiapan infrastruktur backbone yang

solid dan terintegrasi juga berperan besar dalam menjaga konsistensi

pengalaman pengguna. Kombinasi kedua faktor itulah yang tercermin

pada skor tinggi dalam pengukuran OpenSignal.

Tantangan Adopsi 5G di Indonesia

Walaupun performa teknis jaringan terus meningkat, tingkat pemanfaatan 5G

di Indonesia masih relatif rendah. Saat ini penetrasinya diperkirakan baru

mencapai sekitar 10 %, tertinggal jauh dibandingkan beberapa

negara Asia yang rata-ratanya sudah mendekati 50 persen.

Ian mengidentifikasi tiga hambatan utama yang memperlambat

pertumbuhan penggunaan teknologi ini. Pertama adalah keterbatasan alokasi

spektrum frekuensi khusus 5G yang masih minim. Kedua,

faktor harga perangkat, di mana smartphone yang mendukung jaringan 5G

belum sepenuhnya terjangkau bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Ketiga berkaitan dengan model bisnis, karena skenario pemanfaatan

5G di berbagai sektor masih terus dikembangkan.

Dari sisi teknis, ia menjelaskan bahwa performa optimal idealnya dicapai ketika

operator memiliki alokasi spektrum sekitar 100 MHz. Namun dengan ketersediaan

sekitar 50 MHz yang tersusun kontinu pada pita Time Division Duplex (TDD),

layanan 5G sebenarnya sudah dapat berjalan dengan performa yang cukup baik.

Saat ini sebagian besar operator masih mengoptimalkan spektrum yang

juga digunakan jaringan 4G, sehingga implementasi 5G berjalan berdampingan

dengan teknologi sebelumnya. Ke depan, ia berharap kebijakan pengelolaan

spektrum tidak semata berfokus pada penerimaan negara,

melainkan juga mempertimbangkan keberlanjutan investasi industri.

Menurutnya, jika distribusi spektrum dilakukan dengan struktur biaya

yang wajar dan diberikan kepada operator yang berkomitmen membangun

jaringan secara luas, manfaat akhirnya akan dirasakan masyarakat melalui

kualitas layanan yang lebih baik sekaligus mempercepat

pertumbuhan ekonomi digital nasional Tuna55.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *