Harga emas dunia mengalami penurunan tajam pada perdagangan Kamis (12/2/2026), memicu kekhawatiran sekaligus peluang bagi investor. Logam mulia tersebut ditutup di level US$ 4.905,5 per troy ons, anjlok 3,53% dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini membuat harga emas kembali menjauh dari level psikologis US$ 5.000/troy ons, sekaligus menjadi titik terendah dalam sepekan terakhir.
Penurunan drastis ini mengejutkan banyak pelaku pasar karena terjadi tanpa adanya berita fundamental besar seperti perubahan kebijakan bank sentral, konflik geopolitik, atau data ekonomi penting. Biasanya, faktor-faktor tersebut menjadi pemicu utama pergerakan emas.
Tidak Ada Isu Besar, Hanya Faktor Teknis
Menurut Michael Ball, Macro Strategist di Bloomberg, koreksi harga emas kali ini lebih dipengaruhi faktor teknikal daripada fundamental. Artinya, pergerakan harga lebih disebabkan oleh dinamika pasar dan strategi perdagangan otomatis, bukan karena perubahan kondisi ekonomi global.
Pada dini hari waktu Indonesia, bursa saham New York mengalami tekanan hebat. Indeks utama Wall Street — Dow Jones Industrial Average (DJIA), S&P 500, dan Nasdaq Composite — masing-masing turun 1,34%, 1,57%, dan 2,03%. Kondisi ini memicu efek domino di pasar keuangan, termasuk komoditas emas.
Namun faktor paling menentukan ternyata datang dari sistem perdagangan otomatis atau robot trading. Algoritma ini menjalankan transaksi berdasarkan sinyal teknikal dan momentum pasar. Ketika indikator tertentu terpenuhi, sistem langsung melakukan aksi jual dalam jumlah besar tanpa intervensi manusia.
Ball menjelaskan bahwa apa yang terjadi kemungkinan merupakan aksi jual strategis yang sistematis, sering dilakukan oleh CTA (Commodity Trading Advisors). Strategi ini biasanya berbasis tren dan momentum, sehingga ketika harga mulai turun, sistem otomatis mempercepat penjualan dan memperdalam penurunan.
Peran Robot Trading dalam Tekanan Harga Emas
Robot trading kini menjadi pemain besar di pasar finansial global. Sistem ini mampu menganalisis data dalam hitungan milidetik dan mengeksekusi ribuan transaksi secara simultan. Keunggulan kecepatan ini sering kali membuat pergerakan harga menjadi lebih ekstrem dibanding era perdagangan manual.
Ketika sinyal jual muncul, algoritma dapat memicu efek berantai: satu penjualan besar menurunkan harga, penurunan harga memicu sinyal jual lain, dan seterusnya. Inilah yang kemungkinan terjadi pada emas kemarin — tekanan jual meningkat bukan karena berita buruk, melainkan karena reaksi otomatis sistem perdagangan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar modern tidak lagi sepenuhnya digerakkan oleh manusia, melainkan juga oleh logika mesin. Bagi investor, memahami peran teknologi ini menjadi semakin penting.
Analisis Teknikal: Masih Ada Peluang Naik
Meski harga anjlok, analisis teknikal menunjukkan bahwa tren emas belum sepenuhnya berubah menjadi bearish. Pada grafik harian, indikator Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di angka 52. Angka di atas 50 menandakan aset masih berada di zona bullish, meskipun posisinya tergolong netral karena tidak jauh dari batas tersebut.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI 14 hari berada di level 12, jauh di bawah ambang 20. Kondisi ini disebut oversold atau jenuh jual — situasi di mana harga dianggap sudah turun terlalu jauh dan berpotensi rebound.
Berdasarkan indikator ini, peluang kenaikan harga pada perdagangan Jumat (13/2/2026) terbuka. Target resistensi terdekat berada di US$ 4.942/troy ons. Jika level ini berhasil ditembus, harga berpotensi melanjutkan kenaikan ke kisaran US$ 4.974–5.073/troy ons. Bahkan dalam skenario optimistis, emas bisa mencapai US$ 5.227/troy ons.
Risiko Penurunan Harga Emas Masih Ada
Meski peluang rebound terbuka, investor tetap harus mewaspadai skenario negatif. Jika tekanan jual berlanjut, level US$ 4.895/troy ons diperkirakan menjadi support terdekat. Jika support ini jebol, harga bisa turun lebih dalam ke rentang US$ 4.827–4.775/troy ons.
Pergerakan di sekitar level-level teknikal tersebut akan menjadi penentu arah jangka pendek emas. Oleh karena itu, pelaku pasar biasanya memantau area support dan resistance sebagai acuan strategi transaksi.
Jual atau Beli? Ini Pertimbangannya
Situasi seperti sekarang sering memunculkan dilema klasik investor: apakah harus menjual untuk menghindari kerugian lebih besar, atau justru membeli karena harga sedang diskon? Secara umum:
- Trader jangka pendek cenderung menunggu konfirmasi arah. Mereka biasanya baru masuk jika harga menembus resistance atau memantul kuat dari support.
- Investor jangka panjang sering melihat penurunan tajam sebagai peluang akumulasi, terutama jika fundamental emas masih kuat.
- Investor konservatif mungkin memilih menunggu volatilitas mereda sebelum mengambil keputusan.
Kunci utamanya adalah menyesuaikan strategi dengan profil risiko dan horizon investasi masing-masing.
Penurunan harga emas kali ini menjadi contoh nyata bagaimana teknologi dapat memengaruhi pasar secara signifikan. Tanpa adanya katalis fundamental besar, aksi jual dari algoritma trading mampu mendorong harga turun lebih dari 3% dalam sehari.
Meski demikian, indikator teknikal menunjukkan bahwa tren bullish belum sepenuhnya hilang dan peluang rebound tetap terbuka. Bagi investor, kondisi ini bukan sekadar sinyal bahaya, tetapi juga kesempatan — asalkan disertai analisis matang dan manajemen risiko yang disiplin.
Di era pasar modern, memahami perilaku mesin sama pentingnya dengan memahami perilaku manusia. Tuna55

Leave a Reply