Ketegangan di Jalur Gaza kembali meningkat setelah serangan terbaru yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 orang. Insiden ini terjadi meskipun kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah memasuki fase kedua sejak bulan lalu. Peristiwa tersebut menambah daftar panjang pelanggaran yang disebut masih terus terjadi di tengah upaya internasional meredakan konflik berkepanjangan di wilayah Palestina itu.

Rangkuman Laporan di Gaza

Berdasarkan rangkuman laporan berbagai sumber internasional, termasuk kantor berita AFP pada Senin (16/2), kekerasan tidak benar-benar berhenti sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan. Serangan udara dan penembakan dilaporkan masih terjadi di sejumlah titik di Gaza, memperlihatkan rapuhnya kesepakatan damai yang sebelumnya diharapkan mampu menghentikan eskalasi konflik bersenjata.

Serangan terbaru terjadi pada Minggu (15/2) dan dalam kurun waktu 24 jam menyebabkan setidaknya 10 orang tewas. Namun, angka korban kemudian bertambah menjadi 12 orang setelah laporan lanjutan dari otoritas setempat. Badan pertahanan sipil Gaza, yang berfungsi sebagai tim penyelamat di wilayah tersebut, menyatakan bahwa dua serangan utama terjadi di lokasi berbeda—masing-masing di bagian utara dan selatan Gaza.

Serangan pertama dilaporkan menghantam area tenda pengungsi di Jabalia, wilayah utara Gaza. Dalam peristiwa itu, lima orang dinyatakan meninggal dunia dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Kondisi para korban disebut beragam, mulai dari luka ringan hingga luka serius. Lokasi tersebut diketahui menjadi tempat berlindung sementara bagi warga sipil yang kehilangan rumah akibat konflik sebelumnya.

Serangan kedua terjadi pada pagi hari di kota Khan Yunis, wilayah selatan Gaza. Di lokasi ini, lima orang dilaporkan tewas akibat serangan terpisah yang juga menimbulkan korban luka. Tim medis dan relawan langsung melakukan evakuasi terhadap korban yang selamat serta membawa jenazah ke fasilitas kesehatan terdekat.

Selain dua serangan udara tersebut, laporan badan pertahanan sipil Gaza juga menyebut adanya insiden penembakan di Kota Gaza yang menyebabkan satu orang meninggal dunia. Satu korban lainnya dilaporkan tewas akibat tembakan di wilayah Beit Lahia, yang juga terletak di bagian utara. Dengan demikian, total korban jiwa dari rangkaian peristiwa tersebut mencapai sedikitnya 12 orang.

Dua rumah sakit utama di wilayah itu, yakni Rumah Sakit Al-Shifa dan Rumah Sakit Nasser, mengonfirmasi telah menerima setidaknya tujuh jenazah korban serangan. Pihak medis menyebut fasilitas kesehatan masih berupaya menangani korban luka di tengah keterbatasan peralatan dan pasokan medis yang sering kali menjadi masalah di daerah konflik.

Sejumlah warga sipil menyampaikan kesaksian mengenai situasi mencekam saat serangan terjadi. Salah satunya adalah Osama Abu Askar, warga yang kehilangan keponakannya dalam serangan di Jabalia. Ia mengungkapkan kesedihannya dan menilai serangan tersebut menunjukkan bahwa upaya perdamaian belum benar-benar dipahami oleh pihak yang bertikai. Menurutnya, banyak warga sipil menjadi korban saat sedang beristirahat di malam hari.

Peristiwa ini Menyoroti Israel yang Terus Melancarkan Serangan Walau Sudah Gencatan Senjata

Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan gencatan senjata di kawasan konflik. Kesepakatan damai pada dasarnya bertujuan menghentikan kekerasan dan memberi ruang bagi bantuan kemanusiaan masuk ke wilayah terdampak. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pelanggaran masih terjadi, baik berupa serangan udara maupun tembakan langsung.

Pengamat konflik internasional menilai situasi seperti ini sering terjadi dalam konflik bersenjata yang melibatkan banyak kepentingan politik dan militer. Gencatan senjata tidak selalu berarti penghentian total operasi militer, melainkan sering kali hanya mengurangi intensitas serangan. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat dan komitmen penuh dari semua pihak, kesepakatan semacam itu mudah runtuh.

Di sisi lain, masyarakat sipil tetap menjadi pihak paling terdampak. Banyak warga harus hidup dalam kondisi tidak menentu, berpindah tempat tinggal, dan menghadapi risiko serangan sewaktu-waktu. Situasi kemanusiaan di Gaza pun terus menjadi perhatian berbagai organisasi internasional yang menyerukan penghentian kekerasan serta perlindungan bagi penduduk sipil.

Serangan terbaru ini menegaskan bahwa konflik di Gaza masih jauh dari kata selesai. Meskipun jalur diplomasi terus diupayakan, realitas di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan bersenjata masih berlangsung. Tanpa solusi politik yang komprehensif dan disepakati bersama, kekhawatiran akan jatuhnya korban jiwa tambahan tetap membayangi wilayah tersebut.

Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa gencatan senjata hanyalah langkah awal menuju perdamaian, bukan akhir dari konflik. Tanpa kesepakatan jangka panjang yang kuat serta pengawasan internasional yang efektif, siklus kekerasan berpotensi terus berulang, meninggalkan dampak kemanusiaan yang semakin besar bagi warga sipil di Gaza. Tuna55


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *