Pasukan Pakistan dan Taliban Afghanistan Terlibat Bentrokan Saat Jalur Diplomasi Didorong – Konflik bersenjata antara militer Pakistan dan Taliban Afghanistan memasuki hari ketiga pada 28 Februari setelah bentrokan terjadi sepanjang malam. Situasi ini memicu kekhawatiran internasional yang semakin besar, dengan sejumlah pihak menyerukan dialog segera guna meredakan ketegangan.
Menurut pejabat terkait, serangan Pakistan pada 27 Februari menargetkan fasilitas serta pos militer Taliban, termasuk di Kabul dan Kandahar. Serangan tersebut disebut sebagai salah satu operasi terdalam Pakistan di wilayah Afghanistan dalam beberapa tahun terakhir.
Pemerintah Pakistan menuduh Taliban memberi perlindungan kepada kelompok militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang dituding melakukan pemberontakan di dalam negeri. Tuduhan ini dibantah oleh Taliban.
Islamabad menyatakan aksinya sebagai respons atas serangan lintas perbatasan, sementara pihak Kabul mengecam tindakan itu sebagai pelanggaran kedaulatan. Meski demikian, Afghanistan menegaskan masih membuka ruang dialog, namun memperingatkan konflik lebih luas dapat membawa dampak serius.
Serangan Lintas Batas Picu Eskalasi Militer di Perbatasan 2.600 Km
Bentrok ini meningkatkan potensi konflik berkepanjangan di wilayah perbatasan sepanjang sekitar 2.600 kilometer yang dikenal sulit dijangkau.
Upaya diplomatik meningkat pada 27 Februari ketika Menteri Luar Negeri Afghanistan, Amir Khan Muttaqi, melakukan pembicaraan via telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, guna membahas upaya penurunan tensi dan menjaga komunikasi diplomatik.
Uni Eropa mendesak kedua pihak untuk menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga menyerukan penghentian permusuhan secepat mungkin.
Rusia meminta kedua belah pihak menghentikan bentrokan dan melanjutkan dialog, sementara China menyatakan keprihatinan mendalam serta kesiapan membantu meredakan situasi.
Amerika Serikat menyatakan dukungan terhadap hak Pakistan untuk mempertahankan diri dari serangan Taliban, menurut juru bicara Departemen Luar Negeri. Seorang pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengatakan Washington tidak melihat Pakistan sebagai pihak pemicu eskalasi terbaru dan menilai negara itu berada di bawah tekanan untuk mengatasi tantangan keamanan domestiknya. Ia menambahkan AS berharap situasi tidak semakin memburuk.
Bentrokan Perbatasan Berlanjut Antara Pasukan Pakistan dan Taliban Afghanistan
Kontak senjata dilaporkan terus berlangsung sepanjang malam di wilayah perbatasan.
Sumber keamanan Pakistan menyebut operasi militer yang dinamai “Ghazab Lil Haq” masih berjalan, dan pasukan mereka diklaim telah menghancurkan sejumlah pos serta kamp Taliban di berbagai sektor. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Kedua pihak melaporkan korban jiwa dalam jumlah besar, namun data yang disampaikan saling bertentangan dan belum dapat dipastikan kebenarannya. Pakistan menyatakan 12 tentaranya dan 274 anggota Taliban tewas, sedangkan Taliban mengklaim 13 pejuangnya serta 55 tentara Pakistan gugur.
Wakil juru bicara Taliban, Hamdullah Fitrat, menyebut 19 warga sipil meninggal dan 26 lainnya luka-luka di wilayah Khost dan Paktika, meski informasi tersebut juga belum dapat diverifikasi.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, menyatakan kesabaran negaranya telah habis dan menyebut situasi itu sebagai “perang terbuka,” sembari memperingatkan bahwa Pakistan akan membalas setiap serangan lanjutan.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Taliban, Sirajuddin Haqqani, mengatakan konflik tersebut akan membawa biaya besar dan menegaskan pasukan Afghanistan belum melakukan mobilisasi besar di luar unit yang telah terlibat.
Ia menambahkan Taliban sebelumnya mampu mengalahkan kekuatan global bukan melalui teknologi, melainkan melalui persatuan, ketahanan, serta ketekunan.
Secara militer, Pakistan memiliki kekuatan jauh lebih besar dibanding Afghanistan, dengan jumlah personel darat ratusan ribu serta dukungan angkatan udara modern. Di sisi lain, Taliban tidak memiliki kekuatan udara konvensional dan terutama mengandalkan persenjataan ringan serta pasukan darat.
Meski begitu, kelompok tersebut memiliki pengalaman tempur luas setelah dua dekade berperang melawan pasukan pimpinan Amerika Serikat sebelum kembali berkuasa pada 2021. Tuna55

Leave a Reply