Berlatih tari klasik India Kathak dua kali seminggu ternyata membawa dampak besar bagi seorang penasihat hukum internal, Zoe Tan. Selain meningkatkan konsentrasi di tempat kerja, aktivitas ini juga memperdalam hubungan dirinya dengan budaya, komunitas, serta cara mengekspresikan diri.

Pada Oktober tahun lalu, perempuan berusia 33 tahun itu naik ke panggung dan memasuki dunia yang menuntut ritme, kendali, serta ekspresi artistik. Ia tampil membawakan Kathak di panggung Nrityalaya Black Box, Bras Basah Complex. Penampilan tersebut merupakan puncak dari latihan intens hampir setiap hari selama berbulan-bulan, setelah ia terpilih menjadi penari solo pertama untuk program Mehfil milik Bhaskar’s Arts Academy—sebuah platform yang menampilkan praktisi Kathak.

Dari Kantor ke Panggung Tari

Sebagai penasihat hukum profesional, Tan telah mempelajari Kathak selama enam tahun. Dua kali seminggu setelah jam kerja, ia mengganti pakaian kantornya dengan busana kurta dan gelang lonceng kaki khas penari. Disiplin latihan ini lambat laun menjadi lebih dari sekadar hobi kreatif; ia menjadikannya landasan emosional yang membantu mengelola tekanan sekaligus menjaga identitas diri di luar profesinya.

Ia mengakui bahwa dunia hukum sering dianggap kaku dan sangat formal. Karena itu, rekan kerjanya sering terkejut saat mengetahui aktivitas menarinya. Namun justru hal tersebut membuka percakapan yang lebih personal dan menunjukkan bahwa seseorang memiliki banyak sisi selain pekerjaan.

Awal Ketertarikan pada Dunia Tari

Kecintaan Tan pada seni sebenarnya sudah muncul sejak kecil. Ia pernah belajar balet saat masih anak-anak, lalu mencoba tari Bollywood ketika remaja. Dari situlah ia pertama kali mengenal Kathak.

Menurutnya, daya tarik utama Kathak terletak pada perpaduan antara ritme, keanggunan, dan kemampuan bercerita melalui gerakan. Kostum penarinya yang indah juga menjadi salah satu alasan yang membuatnya tertarik mendalami tarian tersebut.

Akhirnya ia menemukan kelas Kathak di Bhaskar’s Arts Academy dan mulai berlatih di bawah bimbingan seorang guru tari. Baginya, kekuatan Kathak ada pada kombinasi teknik yang presisi dan kuat, tetapi tetap menuntut kelembutan, kehalusan gerak, serta kedalaman emosi.

Komunitas yang Terbangun Lewat Seni

Walaupun tarian klasik India pada dasarnya merupakan seni solo, proses mempelajarinya sangat bersifat kolektif. Melalui kelas bersama dan latihan panjang, Tan membangun persahabatan erat dengan sesama penari dari berbagai latar profesi.

Ia bahkan pernah menghadiri pernikahan teman penarinya di India serta menghadiri upacara tradisional lainnya. Pengalaman ini memberinya kesempatan mengenal budaya yang sebelumnya tidak ia pahami. Penampilan internasional juga memperluas jejaringnya, mempertemukannya dengan penari dari negara lain seperti Indonesia dan India.

Menurutnya, hubungan yang terbentuk dari perjalanan seni ini menjadi salah satu aspek paling tak terduga sekaligus paling berharga dalam hidupnya.

Belajar Nilai Kehidupan dari Guru

Bagian paling bermakna dari perjalanan Kathak bagi Tan adalah relasinya dengan sang guru. Dalam tradisi tari ini, ilmu tidak hanya diwariskan melalui langkah kaki, tetapi juga melalui cerita, nilai, dan waktu. Ia merasakan hubungan tersebut seperti mentorship jangka panjang, di mana kebijaksanaan dibagikan perlahan.

Walau ia tidak dibesarkan dengan pengetahuan tentang dewa-dewi Hindu atau bahasa Hindi, Tan kini mampu memahami makna di balik setiap gerakan—mulai dari gestur simbolik dalam tarian religius hingga istilah teknis ritmis yang disebut “bol”.

Dengan bimbingan gurunya, ia belajar melihat perbedaan budaya bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai jalan memahami makna yang lebih dalam. Bahkan teman-temannya yang belum pernah menonton tari klasik India mengatakan mereka tetap dapat merasakan cerita dalam pertunjukannya. Bagi Tan, momen seperti itu menunjukkan kekuatan seni dalam menjembatani perbedaan.

Dampak Positif pada Karier Profesional

Latihan Kathak yang ketat menuntut disiplin dan ketahanan mental, dan hal itu terbukti membantu dalam kariernya. Ia merasa persiapan menghadapi panggung membuatnya lebih tenang saat menghadapi situasi kerja bertekanan tinggi. Kemampuan tetap fokus dan bereaksi cepat terhadap hal tak terduga menjadi keterampilan yang ia bawa dari studio tari ke ruang rapat.

Direktur artistik Bhaskar’s Arts Academy, Meenakshy Bhaskar, menjelaskan bahwa tari tradisional tidak hanya mengajarkan budaya, tetapi juga menumbuhkan konsentrasi, kesabaran, serta etos kerja. Penampilan di panggung meningkatkan rasa percaya diri dan kehadiran diri, sementara latihan kelompok melatih manajemen waktu serta tanggung jawab bersama. Ia juga menambahkan bahwa seni pertunjukan terbukti berperan penting dalam perkembangan otak, fungsi kognitif, dan kecerdasan emosional.

Seni sebagai Perjalanan Seumur Hidup

Tan memahami tidak semua orang punya waktu mendalami seni secara intens. Bagi mereka yang sibuk, ia menyarankan langkah sederhana seperti menonton pertunjukan seni secara langsung.

Baginya, Kathak bukan sekadar kegiatan setelah pulang kerja. Ia melihatnya sebagai perjalanan seumur hidup—cara penting mengekspresikan diri sekaligus terhubung dengan dunia. Seni bukan pesaing kariernya, melainkan berjalan berdampingan dengannya.

Ia juga percaya seni menjaga kesehatan mental, spiritual, dan emosional, meskipun pengorbanan terbesar yang harus ia berikan adalah waktu. Menurutnya, keindahan seni memberi perspektif tentang betapa kecilnya manusia dalam skala kehidupan yang lebih luas, sekaligus menjadi penyeimbang bermakna di tengah tuntutan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari. Tuna55


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *